Kenaikan harga RAM DDR5 bukan lagi sekadar fluktuasi musiman. Lonjakan permintaan memori untuk AI mendorong pabrikan mengalihkan kapasitas ke HBM dan DDR5 server, sementara standar lama seperti DDR4/LPDDR4 dipensiunkan lebih cepat. Hasilnya, stok menipis, harga naik serempak, dan upgrade sederhana menjadi keputusan yang jauh lebih mahal.
Mengapa Harga RAM Melonjak Cepat
Ekosistem DRAM dan pergeseran prioritas
Hampir semua RAM modern adalah DRAM, mencakup DDR4, DDR5, LPDDR, GDDR, hingga HBM. Rantai pasoknya terkonsentrasi di tiga pemain besar: SK Hynix, Samsung, dan Micron, yang menguasai lebih dari 90 persen pasar. Saat permintaan AI meledak, High Bandwidth Memory (HBM) untuk GPU menjadi primadona karena throughput tinggi. Setiap wafer yang dialokasikan ke HBM berarti lebih sedikit wafer untuk DDR5 konsumen, LPDDR5X, atau GDDR6.
Baca Juga
Praktiknya, pabrikan mengikuti kontrak jangka panjang bernilai tinggi dari pusat data dan server. DDR5 RDIMM untuk server menawarkan margin tebal dan volume stabil, sehingga meminggirkan modul DDR5 konsumen. Rumor terbaru bahkan menyebut biaya DDR5 dari salah satu produsen besar naik dua kali lipat, sinyal bahwa prioritas benar-benar bergeser.
Standar lama dipensiunkan dan efek domino
Produsen telah memberi sinyal akhir masa pakai untuk banyak komponen DDR4/LPDDR4. Langkah ini membuka kapasitas bagi produk baru yang lebih menguntungkan, tetapi juga memicu kelangkaan dini di segmen yang seharusnya semakin murah. Ketika persediaan DDR4 diketatkan lebih cepat dari penurunan permintaan, harga lama ikut terdorong naik.
Sinyal pasar yang tidak bisa diabaikan
- Harga kontrak memori notebook melonjak dua digit dalam satu kuartal, menandakan gangguan pasokan yang menyeluruh.
- Harga spot chip DDR5 meningkat jauh di atas pola musiman, cerminan panic buying dan suplai yang ketat.
- DDR3 dan DDR4, yang seharusnya turun harga, justru mulai naik karena kapasitas dialihkan.
- Penawaran diskon DDR5 yang sempat bertebaran kini semakin jarang.
Dampak Langsung ke Pengguna PC, Laptop, dan Ponsel
Efeknya terasa di hampir semua kategori perangkat. Di PC dan laptop, 8 GB diperkirakan tetap menjadi standar awal dalam waktu dekat, berlawanan dengan dorongan ke 16 GB yang diharapkan memberi ruang lebih lega untuk Windows 11. Di ponsel, segmen entry-level cenderung bertahan di 4 GB, mirip satu dekade lalu. Ini menjadi ganjalan bagi pengalaman AI berbasis klien yang membutuhkan memori lebih besar.
Di sisi OEM, sinyal peringatan sudah muncul. Produsen PC besar mengindikasikan kenaikan harga sistem, sementara kutipan harga yang sudah diberikan mungkin tidak lagi berlaku. Jika kondisi memori tak membaik, paruh kedua 2026 dikhawatirkan membawa harga perangkat yang lebih tinggi lagi.
Produsen perangkat yang akrab dengan komunitas antusias juga menyesuaikan diri. Satu merek laptop modular populer mengonfirmasi kenaikan harga upgrade DDR5 sebesar 50 persen karena tak mungkin lagi menyerap lonjakan biaya. Mereka bahkan memperketat kebijakan retur untuk mencegah penimbunan modul oleh spekulan.
Skalanya di pusat data memberi konteks tambahan. Satu rak AI kelas atas bisa memuat puluhan terabita memori gabungan (HBM3E dan LPDDR5X), setara memasok memori untuk lebih dari sejuta laptop. Ketika volume sebesar itu menyerap kapasitas, pasar konsumen tak lagi menjadi fokus utama.
Efek rambatan ke GPU dan penyimpanan
GDDR6 untuk kartu grafis berbagi ekosistem yang sama, sehingga saat DRAM ketat, harga GDDR6 terdorong naik. Biaya GPU kelas menengah dan entry-level ikut terkerek. Sementara itu, NAND untuk SSD dan kartu memori juga bergerak ke arah permintaan enterprise/AI; setelah lama turun, harga SSD konsumen mulai merayap naik.
Pilihan Rasional Saat Harga RAM Naik
Untuk pengguna harian
- Tunda upgrade non-mendesak. Jika perangkat masih stabil, tunggu siklus harga berikutnya.
- Utamakan konfigurasi yang bisa ditingkatkan. Laptop dengan slot SODIMM memberi fleksibilitas saat harga lebih bersahabat.
- Pilih 8 GB dengan opsi ekspansi ketimbang 16 GB solder permanen pada kelas harga yang sama.
- Pastikan dual-channel saat upgrade untuk menjaga performa, terutama di workload ringan AI atau kreatif.
Untuk kreator dan gamer
- Rencanakan kapasitas sesuai aplikasi. Workload editing video, 3D, atau LLM lokal cenderung sensitif pada memori; kalkulasikan headroom realistis.
- Periksa kompatibilitas motherboard/SoC agar pembelian modul tepat pada percobaan pertama.
- Pantau paket bundling yang kadang lebih ekonomis ketimbang beli RAM terpisah.
Untuk IT dan bisnis
- Tinjau ulang BOM perangkat: prioritaskan SKU dengan jalur upgrade, dan pertimbangkan perpanjangan siklus pakai di unit yang masih sehat.
- Kunci harga secepat mungkin ketika pengadaan mendekat, karena kuotasi bisa berubah cepat.
- Evaluasi beban kerja yang bisa dipindah ke cloud jangka pendek untuk meredam kebutuhan memori lokal.
Arah Pasar: 2026 Hingga Beberapa Tahun ke Depan
Beberapa dinamika menandai arah pasar jangka menengah. Micron memutuskan keluar dari bisnis konsumen untuk RAM dan SSD bermerek Crucial; pengapalan tetap berjalan hingga Februari 2026. Praktisnya, pasokan besar ke pasar konsumen tersisa pada dua pemain utama lain, yang umumnya berfokus pada kontrak dengan margin lebih tebal.
SK Hynix berencana menambah kapasitas DRAM pada 2026, namun mayoritas output ditujukan untuk AI dan segmen enterprise. Inisiatif memperluas suplai fisik seperti pembangunan fasilitas baru memang ada, tetapi waktu realisasinya panjang sehingga tidak memberi keringanan cepat bagi pasar konsumen.
Di pusat data, pendekatan seperti ekspansi memori berbasis CXL mulai dilirik. Kartu akselerator tertentu memungkinkan operator memanfaatkan kembali modul DDR4 melalui PCIe, bahkan menggabungkannya dengan kompresi untuk memperbesar kapasitas efektif. Solusi ini tidak langsung membantu pengguna rumahan, tetapi berpotensi meredam laju permintaan enterprise akan modul baru.
Alternatif lain adalah pendinginan permintaan. Jika belanja AI melambat atau ekonominya berubah, keseimbangan suplai dapat pulih. Namun selama pabrikan mendapat penghargaan margin tertinggi di AI dan enterprise, memori untuk perangkat konsumen akan tetap terbatas. RAM telah bergeser dari komoditas murah menjadi faktor pembatas kinerja, dan kebijakan belanja yang lebih hati-hati akan terasa lebih masuk akal bagi banyak pengguna di Indonesia.








