ByteDance mengambil langkah cepat membatasi fitur Seedance 2.0 hanya tiga hari setelah rilis uji coba. Pemicu utamanya adalah demo viral yang menunjukkan betapa realistisnya model video ini saat mengubah satu foto menjadi cuplikan hidup lengkap dengan sudut pandang berbeda, suara, dan lingkungan yang konsisten. Bagi kreator dan brand di Indonesia, ini bukan sekadar isu teknis, melainkan soal tata kelola konten, hak cipta, dan kecepatan produksi yang berubah total.
Realisme ‘Satu Foto’ dan Alasan Penguncian
Dalam sebuah demonstrasi yang ramai dibahas, Seedance 2.0 memvisualkan adegan lengkap hanya dari satu foto referensi. Tingkat koherensi visualnya tinggi, dari mimik wajah hingga pergerakan kamera yang meyakinkan. Tak heran reaksi publik bermunculan, sebagian menyebutnya menakutkan karena membuka peluang deepfake personal dengan modal minimal.
Baca Juga
- Menghasilkan sudut pandang baru, termasuk tampilan belakang tubuh, dari satu foto.
- Menjaga konsistensi lingkungan seperti latar kantor.
- Menghasilkan performa visual yang sinkron dengan dialog dan gerak kamera.
Perdebatan makin lebar karena beredar klip deepfake yang meniru figur publik dan adegan sensasional, dari bermain basket ala atlet bintang hingga skenario fantasi. Diskusi di media sosial pun memaksa pembuat model merespons lebih ketat.
Aturan Baru di Jimeng: Apa yang Berubah
Staf di platform AI ByteDance, Jimeng, mengonfirmasi penguncian fitur pada Kamis, 12/2/2026. Intinya adalah membatasi referensi yang berisiko melanggar privasi dan hak cipta, sekaligus memaksa proses verifikasi saat pengguna ingin membuat video dengan wajah mereka sendiri.
- Blokir unggahan wajah selebriti sebagai referensi.
- Wajib verifikasi identitas untuk konten yang menampilkan diri pengguna.
- Tujuan: menjaga ekosistem yang sehat dan berkelanjutan di tengah risiko hukum.
Kebijakan ini muncul di tengah viralnya berbagai contoh generasi video, dari adegan olahraga tokoh ternama hingga kompilasi mashup ekstrem seperti kucing melawan monster raksasa.
Dampak Praktis untuk Kreator dan Brand di Indonesia
Di balik kekhawatiran, ada sinyal kuat soal efisiensi. Seorang kreator AI profesional menyebut produksi video 1 menit yang biasanya butuh 3 sampai 4 hari dapat dipangkas menjadi setengah hari menggunakan Seedance 2.0. Ini menggeser alokasi waktu dari eksekusi teknis ke ide, skenario, dan kontrol kualitas.
- Peluang: prototyping cepat untuk iklan pendek, explainer, hingga pra-visualisasi kampanye.
- Efisiensi: iterasi storyboard, blocking kamera, dan look dev jadi lebih singkat.
- Risiko: kesalahan perizinan wajah, aset, dan gaya visual pihak ketiga bisa memicu sengketa.
- Implikasi: kreator perlu memperkuat IP sendiri agar nilai karya tidak semata pada teknis.
Bagi brand, keunggulan teknis yang makin terjangkau berarti standar brand safety harus dinaikkan. Validasi narasumber, clearance talenta, dan kontrol aset visual perlu prosedur yang jelas, terlebih saat memadukan stok gambar lama dengan generasi baru berbasis AI.
Mengapa Banyak yang Menilai Setara atau Melebihi Model Lain
Beberapa profesional menilai Seedance 2.0 sebagai model generasi video yang sangat kuat saat ini, bahkan disejajarkan dengan model papan atas seperti Sora 2. Pujian mengalir pada pemahaman visual yang terasa melompat, meliputi dialog, performa, pergerakan kamera, hingga efek yang lebih meyakinkan.
Namun daya ungkit semacam ini ibarat pedang bermata dua. Ketika kualitas teknis dapat direplikasi oleh banyak orang, keunggulan kompetitif kreator akan bergeser ke pengembangan IP, dunia karakter orisinal, dan diferensiasi konsep, bukan semata kemampuan mengoperasikan alat.
Hak Cipta, Privasi, dan Rambu sebelum Adopsi
Realisme tinggi memantik alarm hak cipta. Perwakilan aktor legendaris seperti Stephen Chow mempertanyakan legalitas adegan aksi yang digenerasi AI. Akademisi AI menilai pembatasan ByteDance logis mengingat kecepatan kemajuan teknologi yang mudah disalahgunakan jika tanpa pagar kebijakan.
Langkah yang Patut Dipertimbangkan Tim Konten
- Pastikan perizinan wajah, suara, dan gaya visual jelas saat menggunakan referensi manusia.
- Gunakan verifikasi identitas sesuai kebijakan platform ketika menampilkan diri sendiri.
- Bangun IP orisinal untuk mengurangi ketergantungan pada aset berisiko.
- Simpan jejak proses kreatif, naskah, dan aset untuk audit internal dan kepatuhan.
- Siapkan SOP evaluasi deepfake risk pada materi yang melibatkan figur publik.
Pembatasan mendadak pada Seedance 2.0 menandai arah baru: inovasi tetap jalan, tetapi dengan pagar yang ketat. Bagi ekosistem kreator lokal, ini momen menata workflow agar cepat sekaligus patuh, karena reputasi dan kepercayaan audiens lebih mahal dari sekadar hasil visual yang terlihat sempurna.









