Pada 2026, pasar komponen komputer bergeser cepat. Laju pembangunan infrastruktur AI oleh raksasa teknologi memicu permintaan memori yang melampaui pasokan, membuat krisis RAM DDR5 dan penyimpanan berkecepatan tinggi meluas ke ranah konsumen. Dampaknya paling terasa di segmen PC gaming dan konsol portabel berbasis PC seperti Steam Deck.
Lonjakan Permintaan AI, Efek Domino ke Konsumen
Persaingan membangun infrastruktur AI menaikkan konsumsi semikonduktor, terutama memori dan media penyimpanan cepat. Pabrikan memprioritaskan kontrak volume besar, sehingga pasokan untuk pasar ritel menyusut.
Baca Juga
Akibatnya, merakit PC gaming terjangkau menjadi sulit. Kelas menengah yang dulu berada di kisaran sekitar Rp9,5 juta hingga Rp12,8 juta (USD 600–800) terdorong naik, membuat banyak calon pengguna menahan belanja atau menurunkan ekspektasi performa.

Steam Deck: Dari Opsi Stabil Menjadi Serba Terjepit
Selama dua tahun terakhir, Steam Deck kerap dipilih sebagai jalan tengah: harga relatif stabil, kinerja cukup, dan ekosistem game PC tetap bisa dinikmati. Namun desain yang terkunci spesifikasi kini berbalik menekan.

Stok OLED Menipis, LCD Segera Usai
Varian OLED dilaporkan mengalami kelangkaan di sejumlah pasar utama. Lini layar LCD yang lebih lama sudah dihentikan di akhir 2025 di beberapa wilayah dan diperkirakan akan lenyap dari etalase saat stok terakhir habis.
Valve belum memberi alasan resmi terkait gangguan pasokan mendadak ini. Sejumlah analis mengaitkannya dengan kekurangan komponen memori dan penyimpanan yang melebar ke banyak kategori produk.
16GB RAM: Batas Baru yang Mulai Terasa
Steam Deck dipasarkan dengan 16GB RAM yang saat peluncuran masih ideal. Memasuki 2026, game AAA generasi baru mendorong syarat minimum sistem naik, terutama untuk memori dan storage.
- Game modern memuat aset beresolusi tinggi dan sistem streaming data yang agresif, membuat ruang napas 16GB semakin sempit.
- Jika konfigurasi dipertahankan, dukungan jangka panjang untuk judul-judul baru berisiko tereduksi.
- Jika ditingkatkan kapasitas RAM, harga berpotensi keluar dari jangkauan segmen yang selama ini menjadi target utama Steam Deck.
Tekanan ke Produsen dan Pengembang
Valve mengakui krisis komponen berdampak pada rencana produk, termasuk penundaan mesin Steam generasi berikutnya yang tadinya ditargetkan menyematkan peningkatan signifikan. Pabrikan lain di ranah konsol portabel PC juga menghadapi pilihan sulit: menunda, atau memangkas fitur agar harga tetap kompetitif.
Di sisi pengembangan game, studio harus memilih antara mendorong kualitas visual dan teknologi baru yang haus memori, atau mengoptimalkan build agar tetap ramah perangkat dengan RAM 16GB demi menjaga basis pengguna yang besar.
Bagaimana Memilih di Tengah Krisis
Untuk pembaca Indonesia, keputusan upgrade tidak lagi sebatas performa, melainkan juga ketahanan spesifikasi dalam 1–2 tahun ke depan serta ketersediaan unit di pasar.
Langkah Praktis Sebelum Membeli
- Pantau tren harga RAM dan SSD cepat. Jika tidak mendesak, menunda upgrade besar bisa memberi ruang hingga pasokan membaik.
- Jika merakit PC, prioritaskan kapasitas memori yang memadai untuk target game. Kenaikan harga dapat diimbangi dengan kompromi pada komponen yang tidak krusial bagi performa game.
- Untuk pemilik Steam Deck, kelola ekspektasi pada judul AAA terbaru: turunkan kualitas tekstur, kurangi aplikasi latar, dan manfaatkan opsi grafis yang lebih ringan.
- Pertimbangkan pembelian di momen promosi resmi untuk mengurangi selisih harga, terutama pada komponen memori.
Kapan Masuk Akal Meng-upgrade
- Game utama yang sering dimainkan mulai menuntut kapasitas RAM lebih besar atau loading melambat karena keterbatasan storage cepat.
- Kualitas visual target tidak tercapai meski pengaturan grafis sudah dioptimalkan.
- Stok perangkat yang dibidik mulai stabil dan tidak ada sinyal pengurangan fitur signifikan pada batch terbaru.
Arah Pasar Dalam Waktu Dekat
Krisis pasokan biasanya memicu dua hal: siklus optimasi software agar berjalan lebih efisien dan penyesuaian portofolio hardware untuk menjaga rentang harga. Selama ketatnya pasokan berlangsung, konsumen akan menemukan lebih banyak rekomendasi pengaturan grafis hemat memori dari pengembang, sementara produsen perangkat portabel menata ulang konfigurasi agar tetap relevan meski tanpa loncatan spesifikasi besar.
Tekanan terbesar tetap ada pada titik temu harga dan kemampuan. Steam Deck, yang pernah menjadi titik aman bagi banyak gamer PC, kini berada di persimpangan yang menuntut keputusan cermat: bertahan dengan 16GB dan fokus pada efisiensi, atau naik kelas spesifikasi dengan risiko harga melambung. Sambil menunggu arah berikutnya, langkah paling rasional adalah menyesuaikan kebiasaan bermain dan waktu pembelian dengan pergerakan pasokan memori.








