Meninggalkan Google, Insinyur Android Ini Tolak Kembangkan AI Militer

15 Jun, 2026 3 min read
Seorang insinyur senior keamanan Android memilih mundur dari Google. Ia menolak terlibat dalam pengembangan kecerdasan buatan untuk proyek militer dan pertahanan AS yang dinilai melanggar etika kemanusiaan.
Meninggalkan Google, Insinyur Android Ini Tolak Kembangkan AI Militer

Seorang insinyur senior di balik keamanan sistem operasi Android memutuskan mundur dari Google. Alasannya bukan sekadar gaji atau jenjang karier, melainkan penolakan tegas terhadap arah baru perusahaan yang kini semakin erat merangkul kontrak militer dan kecerdasan buatan untuk alat perang. Keputusan ini menyoroti dilema etis yang mendalam di jantung Silicon Valley.

  • René Mayrhofer adalah insinyur utama keamanan Android yang mengundurkan diri dari Google.
  • Ia menolak keterlibatan Google dalam proyek kecerdasan buatan untuk keperluan militer dan pertahanan AS.
  • Sang insinyur menyayangkan hilangnya "kompas moral" perusahaan yang dulu dikenal dengan moto "Don't be evil".
  • Selain isu militer, Mayrhofer juga mengkritik langkah Google yang mundur dari target netralitas karbon demi mendukung operasional model AI Gemini.

Surat Perpisahan yang Membongkar Dilema Etis

René Mayrhofer, yang telah berkontribusi di Google sejak 2017, mengirimkan surat perpisahan pribadi kepada rekan-rekannya pada 18 Mei lalu. Surat yang diperoleh Business Insider itu mengungkap kekecewaan mendalam seorang pasifis. Ia menyatakan dirinya mendeskripsikan diri sebagai seorang pasifis dan pembela privasi, sehingga tidak bisa lagi bekerja di perusahaan yang menyediakan layanan AI untuk Departemen Pertahanan AS.

Dalam suratnya, ia menulis bahwa dirinya sangat sedih harus mengambil langkah ini dan sangat berharap manajemen Google dapat menemukan kembali kompas moralnya. Mayrhofer menambahkan, meskipun masih banyak orang "sangat baik" di Google, pengaruh mereka kian terpinggirkan oleh arah bisnis perusahaan secara keseluruhan.

René Mayrhofer, insinyur keamanan Android yang mundur dari Google karena masalah etika AI militer

Dari "Don't Be Evil" Hingga Proyek Klasifikasi Pentagon

Kritik Mayrhofer bukan sekadar sentimen pribadi, melainkan cerminan transformasi Google selama satu dekade terakhir. Saat melantai di bursa saham pada 2004, perusahaan ini mempopulerkan moto "Don't be evil" sebagai citra pembeda. Moto itu bertahan dalam pedoman etika perusahaan hingga akhirnya dihapus pada 2018.

Saat ini, konglomerasi Alphabet justru semakin agresif mengejar proyek AI dengan aplikasi militer serta mengerjakan proyek rahasia bersama Pentagon. Mayrhofer secara spesifik menyebut manajemen Google saat ini meneken kesepakatan dengan "Kementerian Perang AS", di mana frasa untuk "tujuan apa pun yang sah" telah terbukti melanggar hukum internasional. Ia merasa perusahaan tempatnya bekerja kini secara proaktif berpotensi mencelakai banyak orang.

Pergeseran ini bukan tanpa kontroversi sebelumnya. Beberapa karyawan lain juga pernah menyuarakan penolakan terhadap kontrak pertahanan. Namun, langkah Mayrhofer terasa signifikan karena posisinya sebagai bagian dari tim inti keamanan Android. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan eksekutif kini menyetujui kesepakatan terkait militer tanpa diskusi atau komunikasi internal yang memadai.

Mantan insinyur Android meninggalkan Google di tengah meningkatnya kemitraan pertahanan dan pengembangan AI

Kekhawatiran Pengawasan Massal Terhadap Warga Eropa

Alasan Mayrhofer mundur juga didasari kekhawatiran teknis yang mendalam. Sebagai profesor di Johannes Kepler University, Austria, ia melihat potensi penyalahgunaan model AI Google untuk pengawasan massal, termasuk terhadap warga negara Eropa. Ini adalah persimpangan berbahaya antara data personal Android, cloud AI, dan kebijakan militer.

Tidak seperti kebanyakan insinyur lain, Mayrhofer mengaku tidak bergantung secara finansial pada Google. Posisinya di universitas memungkinkannya memilih keluar tanpa beban ekonomi yang berat. Selama ini ia mampu menyeimbangkan kontribusi besarnya di sistem keamanan Android dengan posisi akademik di Uni Eropa. Namun, ketika etika dan kemanusiaan dipertaruhkan, ia memilih untuk tidak terlibat.

Referensi: TechSpot | Android engineer leaves Google amid concerns over defense partnerships