Ketika presenter INMO naik ke panggung Global Connect di China dengan naskah yang bergulir otomatis di depan matanya, penonton baru sadar ada yang berbeda. Ia tidak menunduk ke ponsel, tidak memegang tablet, dan justru menjadikan catatan kertas di tangannya sebagai cadangan yang mengundang tawa. Momen sederhana itu membuktikan satu hal: kacamata pintar tanpa ponsel bukan lagi konsep futuristik yang jauh.
- Penerjemah real-time 98 bahasa tanpa koneksi ponsel
- Baterai sistem swap yang bisa ditukar dalam lima detik
- Bobot hanya 58 gram dengan dukungan lensa resep hingga minus 2000 derajat
- Fitur teleprompter AI, transkripsi langsung, dan ringkasan rapat otomatis
Ketika Kacamata Pintar Berhenti Merepotkan

INMO GO3 hadir dengan filosofi yang cukup langka di kategori perangkat wearable: jadilah alat bantu dulu, baru bicara revolusi. Alih-alih menjejalkan notifikasi media sosial atau iklan berbasis lokasi ke bidang pandang Anda, kacamata ini fokus pada satu misi sederhana, mengurangi gesekan antara Anda dan tugas yang sedang dikerjakan.
Demonstrasi teleprompter yang viral itu memperlihatkan prinsip kerja perangkat ini secara gamblang. Teks mengalir mengikuti ritme bicara presenter, membebaskan tangan untuk gestur alami, dan menghilangkan kebutuhan mencuri pandang ke layar kedua. Dalam presentasi bisnis, kuliah umum, atau bahkan pidato pernikahan, fungsi ini terasa jauh lebih manusiawi dibanding solusi konvensional.
Namun, penerjemah bahasa real-time adalah fitur yang paling mencuri perhatian. Bayangkan Anda berdiri di konter imigrasi bandara asing, dan teks terjemahan muncul di lensa Anda tanpa perlu mengeluarkan ponsel. Atau saat negosiasi dengan klien mancanegara, transkrip bilingual mengalir dalam keheningan yang sopan. INMO mengklaim mendukung 98 bahasa, angka yang secara teknis menyaingi Google Translate dalam bentuk perangkat keras yang bisa Anda pakai seharian.
Spesifikasi yang Menopang Ambisi Kacamata Pintar Multifungsi

Dari sisi teknis, INMO GO3 membawa sejumlah keputusan desain yang matang. Bobot 58 gram menempatkannya di wilayah nyaman untuk pemakaian harian, sementara dukungan lensa resep hingga minus 2000 derajat membuka akses bagi pengguna berkacamata yang selama ini tersisih dari kategori smart glasses. INMO, yang berdiri sejak 2020, tampaknya memahami bahwa adopsi massal tidak akan terjadi jika produk hanya cocok untuk pengguna bermata normal.
Sistem baterainya juga patut dicatat. Alih-alih mengandalkan satu sel tanam yang membuat perangkat menganggur saat diisi ulang, GO3 mengadopsi baterai swap yang bisa ditukar dalam waktu sekitar lima detik. Ini adalah solusi cerdas untuk pengguna yang membutuhkan perangkat aktif sepanjang hari kerja, dari rapat pagi hingga presentasi malam, tanpa harus mencari stop kontak.
Berikut ringkasan spesifikasi utamanya:

- Penerjemahan: Real-time, 98 bahasa, tanpa koneksi ponsel
- Display: Proyeksi informasi langsung ke bidang pandang
- Navigasi: HERE Maps terintegrasi, panduan visual hands-free
- Audio: Transkripsi langsung, ringkasan rapat berbasis AI
- Bobot: 58 gram dengan dukungan lensa resep (minus 2000 derajat)
- Baterai: Sistem swap, pertukaran dalam lima detik
- Kamera: Photo translation, tangkap teks dan terjemahkan visual

Beberapa detail masih menggantung, terutama soal perekaman video yang tidak dijelaskan setegas fitur foto. Kualitas perangkat lunak untuk transkripsi dan ringkasan AI juga harus dibuktikan di luar lingkungan demo, karena latensi atau kesalahan akurasi di fitur-fitur andalan ini bisa langsung merusak kepercayaan pengguna. INMO sudah cukup lama berkecimpung di industri ini untuk memahami risiko tersebut, dan setidaknya mereka punya argumen yang lebih koheren dibanding kebanyakan kompetitor.
Harga dan Posisi di Pasar Kacamata Pintar Tanpa Ponsel

INMO memasang banderol GO3 di angka Rp6,7 jutaan atau sekitar $450. Angka ini menempatkannya di bawah Ray-Ban Meta Smart Glasses yang membutuhkan koneksi ponsel, sekaligus bersaing langsung dengan Solos AirGo Vision yang juga mengusung fitur AI namun dengan pendekatan audio-centric. Keunggulan GO3 terletak pada kemandiriannya: ia adalah perangkat standalone yang tidak memerlukan ponsel sebagai otak utama.
Perbandingan menarik lainnya adalah dengan XREAL Air 2, yang fokus pada layar lebar untuk konsumsi konten. GO3 mengambil jalur berbeda, fungsi produktivitas ringan yang menyatu dalam momen-momen sehari-hari. Anda tidak memakainya untuk menonton film, melainkan untuk memahami percakapan lintas bahasa atau menavigasi rute tanpa menyentuh ponsel. Filosofi ini lebih sederhana, namun justru lebih ambisius karena menyasar kebiasaan harian, bukan hiburan sesekali.

Visi besar INMO adalah menjadikan kacamata pintar sebagai platform komputasi seluler berikutnya, antarmuka utama untuk AI yang tidak lagi menuntut Anda menggenggam layar. Klaim itu terdengar muluk, dan memang sering diulang oleh banyak pemain industri. Namun, dengan memulai dari pengaturan sederhana ketimbang maksimal, GO3 membangun argumennya dari fondasi yang lebih jujur. Jika kacamata pintar memang akan relevan di masa depan, mereka harus membuktikan diri dalam momen-momen kecil terlebih dahulu.

