Pernah merasa proses rekrutmen dan pengelolaan karyawan lapangan terlalu banyak menyita waktu? Membaca setumpuk CV, menelepon kandidat satu per satu, dan mengecek absensi lewat spreadsheet adalah mimpi buruk yang belum tersentuh efisiensi. Inilah celah yang dilihat Sergi Bastardas setelah satu dekade berkarir di Amazon dan startup florikultura Colvin. Ia menyadari, infrastruktur manusia di balik layar bisnis justru paling minim sentuhan teknologi.
- Orbio mengembangkan tiga agen AI bernama Maria, Daniel, dan Claire untuk menangani wawancara hingga pemantauan karyawan
- Putaran pendanaan Seri A senilai Rp325 miliar dipimpin Dawn Capital dengan total dana mencapai Rp403 miliar
- Klien perusahaan sudah mencakup YUM! Brands dan berhasil tingkatkan 20% kandidat lolos proses rekrutmen
- Fokus pada pekerja garis depan di ritel, logistik, kesehatan, dan perhotelan yang mayoritas tanpa email perusahaan
Bukan Sekadar Chatbot, Ini Agen yang Bekerja Sepanjang Siklus Karyawan
Bersama Nacho Travesí dan Antonio Melé, Bastardas mendirikan Orbio pada 2025 dengan premis sederhana: mendelegasikan operasional tenaga kerja ke agen AI. Kini ketiga agen tersebut punya peran spesifik. Maria mewawancarai kandidat, Daniel menilai kesesuaian posisi, dan Claire memantau output serta melakukan check-in harian sepanjang masa kerja karyawan.
Menariknya, Bastardas menjelaskan bahwa setiap agen saling mengisi data secara berkelanjutan. Sinyal dari proses onboarding memberi masukan ke kualitas rekrutmen. Wawancara exit interview mengungkap alasan karyawan keluar, yang otomatis mengkalibrasi ulang kriteria perekrutan. Data keterlibatan karyawan harian mendeteksi risiko retensi lebih dini. Ini bukan otomatisasi terpisah, melainkan sistem yang belajar dan menyesuaikan diri.
Dari Dapur Restoran Cepat Saji hingga Layanan Kesehatan
Aplikasi nyata Orbio sudah berjalan di beberapa nama besar. YUM! Brands yang menaungi Pizza Hut, Taco Bell, dan KFC memanfaatkan Orbio untuk merekrut dan mengelola karyawan garis depan mereka. Di penyedia layanan kesehatan perilaku The Stepping Stones Group, Orbio kini menjalankan operasi penuh di seluruh Amerika Serikat dengan hasil 20% lebih banyak kandidat yang lolos proses perekrutan.
Ini sinyal bahwa adopsi bergerak dari tahap uji coba ke penerapan penuh. Bastardas menekankan bahwa teknologi ini bukan soal menggantikan manusia, melainkan memberikan alat bagi 2,7 miliar pekerja yang selama ini tidak tersentuh ekosistem digital korporat. Pekerja di ritel, logistik, perhotelan, dan layanan kesehatan yang bahkan tak punya alamat surel perusahaan kini punya momen AI mereka sendiri.
Melawan Spreadsheet dan Panggilan Telepon
Di kancah startup, Orbio memang bersinggungan dengan pemain seperti Paradox yang fokus otomatisasi rekrutmen, atau WorkJam di ranah manajemen tenaga kerja garis depan. Namun Bastardas melihat kompetitor terbesar bukanlah startup serupa, melainkan pendekatan usang yang masih mengandalkan spreadsheet dan panggilan telepon di industri kesehatan, ritel, dan logistik.
Dengan total pendanaan mencapai $26 juta atau sekitar Rp403 miliar dari investor termasuk Visionaries dan 2100 Ventures, Orbio berencana menggunakan modal segar untuk merekrut talenta dan mengembangkan lebih banyak agen AI. Dana segar ini diumumkan pada Senin lalu dengan Dawn Capital sebagai pemimpin putaran Seri A senilai $21 juta atau sekitar Rp325 miliar.

Perpaduan antara kebutuhan pasar yang nyata, hasil terukur dari klien eksisting, dan arus pendanaan yang solid menempatkan Orbio di posisi menarik. Ketika bisnis di seluruh dunia mulai mencari cara mengelola tenaga kerja tanpa menambah beban administratif, pendekatan agen AI yang saling terhubung ini layak dicermati lebih dekat.
