Anda mungkin tidak pernah membayangkan bahwa pisau dapur premium atau jam tangan mewah di pergelangan tangan bisa lahir dari teknik yang sama untuk membangun drone militer canggih. Namun di balik layar industri metalurgi, sebuah startup bernama Foundation Alloy diam-diam merevolusi fondasi peradaban modern: cara kita membuat logam. Alih-alih melebur berbagai metal dalam tungku seperti sejak Zaman Perunggu, mereka justru 'menghantam' partikel-partikel logam hingga menyatu.
- Foundation Alloy kembangkan teknik alloying 'solid-state' pertama yang mampu memangkas konsumsi energi hingga 90%.
- Proses ini memecahkan dilema klasik logam tahan panas namun mudah getas, menciptakan material yang tangguh di suhu ekstrem.
- Startup telah mengantongi pendanaan seri A senilai Rp358 miliar untuk ekspansi ke skala ton per minggu pada 2027.
- Teknologi ini sudah diuji coba oleh industri otomotif, pertahanan (komponen drone), produsen jam tangan mewah, dan pisau koki premium.
Bukan Dilelehkan, Ditempa dengan Hantaman
Proses pembuatan logam campuran (alloy) secara fundamental tidak banyak berubah selama ribuan tahun: panaskan dan lelehkan beberapa jenis metal, lalu campur hingga menjadi material baru yang lebih kuat. Foundation Alloy mendobrak pakem ini sepenuhnya. Alih-alih melebur, mereka menggunakan mesin penggiling khusus yang 'menghantam' bubuk-bubuk logam berulang kali hingga menyatu secara mekanis pada skala nanometer.
"Kami benar-benar menghancurkan partikel bubuk logam bersama-sama daripada melelehkannya," ujar Jake Guglin, Co-founder dan CEO Foundation Alloy, kepada TechCrunch. "Kami bisa menciptakan properti material yang tidak bisa dibuat oleh metode konvensional."
Fondasi ilmiah teknik ini lahir dari riset selama dua dekade terakhir oleh Tim Rupert dan Chris Schuh, yang mendalami apa yang terjadi pada logam di skala nanometer. Menariknya, Chris Schuh bukan pemain baru di kancah startup, ia sebelumnya turut mendirikan Desktop Metal dan Xtalic. Pendekatan 'solid-state' ini menggunakan energi sekitar satu orde magnitud lebih rendah dibanding peleburan tradisional, memberikan keunggulan efisiensi sekaligus membuka kemungkinan mencampur metal dengan titik leleh yang sangat berbeda tanpa kendala fisik.
Mengakhiri Dilema Logam Tahan Panas vs Kuat
Tantangan abadi dalam metalurgi adalah trade-off antara ketahanan panas dan kekuatan mekanis. Logam untuk tungku cenderung rapuh, sementara logam perkakas yang sangat kuat justru lebih cepat rusak saat terpapar suhu tinggi. Mencoba memaksakan kedua properti itu dalam paduan konvensional biasanya berakhir dengan hasil yang medioker di semua aspek.
Foundation Alloy mengklaim telah memecahkan dilema ini. Proses solid-state memungkinkan struktur kristal yang lebih homogen tanpa rongga mikroskopis yang biasa menjadi titik lemah pada alloy tradisional. Hasilnya, logam mampu 'menahan panas dan menerima pukulan' dalam satu material yang sama. Beberapa produk awal mereka telah digunakan untuk komponen perkakas di industri otomotif serta suku cadang untuk perusahaan dirgantara dan pertahanan.
Dalam konteks pertahanan, pasar awal yang paling agresif adalah suku cadang drone. "Mereka terbiasa berpikir untuk membuat 100 suku cadang sempurna per tahun," kata Guglin merujuk pada rantai pasok jet tempur F-35. Sementara kebutuhan drone justru mendekati 10.000 unit per bulan. Skala produksi yang masif dengan spesifikasi tinggi inilah yang menjadi celah nilai bagi teknologi Foundation Alloy.
Dari Dapur Hingga Kokpit: Aplikasi yang Mengejutkan
Bukan hanya industri berat, daya tarik alloy jenis baru ini justru muncul dari sektor konsumen yang tidak terduga. Guglin mengungkapkan startupnya sedang menjalankan uji coba dengan produsen pisau koki premium dan pembuat jam tangan mewah. Dalam perumpamaannya yang cukup membumi, Guglin menyamakan proses alloying seperti memasak: kualitas hidangan tidak hanya bergantung pada bahan, tetapi juga bagaimana teknik memasaknya.
"Dua koki dapat menggunakan bahan yang sama dan menghasilkan hidangan yang berbeda rasa jika mereka tidak mengikuti langkah prosedural yang sama," jelasnya. "Kami memiliki cara baru untuk memasak." Pendekatan ini memungkinkan Foundation Alloy menjadi pemasok logam khusus buatan (bespoke) yang sulit ditiru oleh produsen alloy konvensional.
Untuk mengakselerasi kapasitas produksinya menjadi beberapa ton per minggu pada 2027, perusahaan ini baru saja mengamankan pendanaan Seri A senilai $22 juta (sekitar Rp358 miliar) yang dipimpin oleh Voyager Ventures. Turut berpartisipasi dalam putaran ini adalah Trust Ventures, Yamaha Motors, America's Frontier Fund, Overlap Holdings, Material Impact, Engine Ventures, El Cap, dan Kanematsu Corporation. Menariknya, Kanematsu tidak hanya menjadi investor, tetapi juga akan bertindak sebagai distributor logam-logam ini di Jepang dan Asia Tenggara.
Saat ini kapasitas pasokan masih sangat terbatas, namun sinyal minat dari berbagai sektor menunjukkan bahwa teknik penghantaman logam ini bukan sekadar gimik laboratorium. Dengan rantai pasok yang mulai merambah kawasan Asia Tenggara, bukan mustahil dalam beberapa tahun ke depan output dari proses ini akan menyentuh perangkat yang lebih dekat dengan keseharian kita.

Sumber: TechCrunch

