Apple resmi melakukan penyesuaian harga global pada 25 Juni 2026 untuk lini Mac, iPad, HomePod, Apple TV, hingga Vision Pro. Kebijakan ini terasa janggal karena diambil di tengah siklus produk yang sedang berjalan, bukan saat peluncuran perangkat baru. Langkah ini mencerminkan tekanan berat yang dihadapi perusahaan akibat krisis komponen memori global.
Pemicu utamanya adalah lonjakan permintaan chip DRAM dari pusat data kecerdasan buatan yang membuat pasokan untuk perangkat konsumen semakin terbatas. Kondisi ini, yang dijuluki industri sebagai RAMageddon, memaksa Apple mengakhiri masa di mana mereka menanggung sendiri lonjakan biaya komponen tersebut. Harga DRAM sendiri tercatat naik hampir 98 persen pada kuartal pertama 2026, dengan proyeksi kenaikan tambahan sebesar 58 hingga 63 persen di kuartal berikutnya.

- Apple resmi menaikkan harga global untuk lini Mac, iPad, HomePod, hingga Vision Pro akibat krisis lonjakan harga komponen memori DRAM.
- Rata-rata kenaikan harga berkisar antara $ 100 hingga $ 300, dengan penyesuaian tertinggi terjadi pada Mac Studio M3 Ultra yang melonjak sebesar $ 1.300.
- Pengumuman ini direspons negatif oleh pasar hingga membuat saham Apple merosot 6 persen, sementara dampak di pasar Indonesia diperkirakan menyusul setelah stok lama habis.
Daftar Kenaikan Harga Global
Secara umum, produk Apple mengalami kenaikan harga antara $ 100 hingga $ 300. Pengecualian terjadi pada Mac Studio M3 Ultra yang harganya melonjak hingga $ 1.300. Penting untuk dicatat bahwa lini iPhone, Apple Watch, dan AirPods tidak terdampak oleh kebijakan penyesuaian harga ini.
Angka-angka tersebut masih bersifat estimasi global dan belum memperhitungkan harga akhir di Indonesia. Harga di tanah air biasanya akan lebih tinggi setelah ditambahkan komponen pajak impor, PPN, dan margin distribusi dari distributor resmi.
Respons Pasar Saham terhadap Kebijakan Harga

Pasar bereaksi keras terhadap keputusan ini dengan penurunan saham Apple sebesar lebih dari 6 persen dalam satu hari perdagangan. Aksi jual ini menghapus kapitalisasi pasar sekitar $ 265 miliar, yang tercatat sebagai penurunan harian terbesar dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Analis dari Evercore menyoroti bahwa kenaikan harga sebesar 17 hingga 25 persen untuk konfigurasi dasar MacBook dan iPad cukup mengejutkan karena dilakukan tanpa kehadiran produk baru. Meskipun demikian, firma seperti Wedbush tetap mempertahankan rekomendasi beli. Mereka berargumen bahwa loyalitas ekosistem Apple cukup kuat, di mana konsumen cenderung memilih varian dengan kapasitas memori lebih besar daripada harus meninggalkan ekosistem.
Implikasi Nyata bagi Konsumen Indonesia
Di Indonesia, kenaikan harga iPhone sudah terjadi lebih dulu akibat penguatan dolar AS terhadap rupiah yang menekan biaya impor. Data iBox per Juni 2026 menunjukkan iPhone 15 128 GB kini dijual seharga Rp 12.999.000 dari sebelumnya Rp 11.999.000, sementara iPhone 17 varian 256 GB naik menjadi Rp 17.999.000.

Untuk kategori Mac dan iPad, penyesuaian harga akan mengikuti kenaikan global secara bertahap. Harga baru akan mulai berlaku segera setelah stok batch lama di distributor habis. Mengingat struktur pajak dan PPN yang berlapis, konsumen lokal kemungkinan akan merasakan selisih harga yang lebih signifikan dibandingkan angka kenaikan dalam dolar AS.
Keputusan Apple untuk menaikkan harga di tengah jalan merupakan sinyal bahwa krisis rantai pasok komponen memori benar-benar berada di titik kritis. Bagi Anda yang berencana melakukan pembelian perangkat Mac atau iPad, sisa stok lama mungkin menjadi kesempatan terakhir sebelum harga baru yang lebih tinggi benar-benar diterapkan di pasar Indonesia.

